“Tujuan diselenggarakannya in house training PPRA ini difokuskan agar peserta dapat menjalankan Program PRA di rumah sakit, mulai dari tahap audit kuantitatif antibiotik sampai dengan tahap kualitatif antibiotic”.
FORKODABABEL.COM, BANGKA — Sebagai upaya peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di RSUD Depati Bahrin Sungailiat Kabupaten Bangka menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA), Kamis (17/04/2025) hingga Sabtu (19/04/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh dokter umum, dokter spesialis, perawat, bidan, apoteker, dan Tim PPRA RSUD Depati Bahrin yang dilaksanakan di Aula IBS RSUD Depati Bahrin.

Ketua Panitia IHT Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA), dr. Sry Rejeki, Sp.M.K menyampaikan, maksud diselenggarakannya pelatihan Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) adalah agar peserta memahami kebijakan nasional pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit, serta dapat melaksanakan PPRA dalam standar nasional akreditasi rumah sakit.
“Tujuan diselenggarakannya in house training PPRA ini difokuskan agar peserta dapat menjalankan Program PRA di rumah sakit, mulai dari tahap audit kuantitatif antibiotik sampai dengan tahap kualitatif antibiotic. Sehingga peserta dapat mengimplementasikan penggunaan antibiotik di rumah sakit secara bijak,” terang dr. Sri Rejeki, Sp.M.K.
Sementara itu, Direktur RSUD Depati Bahrin, dr. Yogi Yamani, Sp.B menyampaikan, dasar pelaksanaan kegiatan ini adalah Permenkes Nomor 8 tahun 2015.
Kegiatan ini sangat penting dilakukan agar kita bisa bijak menggunakan antimikroba.
“Harapannya melalui in house training ini adalah agar RSUD Depati Bahrin dapat terus meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan, sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat,” kata dr. Yogi.

Kegiatan IHT PPRA ini menghadirkan narasumber yang berkompeten pada bidangnya, yakni dr. Yogi Yamani, Sp. B , dr. Sry Rejeki, Sp.M.K, dr. Dian Eka Sari, Sp.AN, dr. Goklash Apryanto, Sp.B dan Christina Diansiana, Apt. S.Farm, Msc yang menyampaikan berbagai materi yang terkait dengan kegiatan IHT PPRA ini.
Resistensi Mikroba terhadap anti mikroba telah menjadi masalah kesehatan yang mendunia, dengan berbagai dampak yang merugikan dapat menurunkan mutu pelayanan kesehatan.
Muncul dan berkembangnya resistensi antimikroba terjadi karena tekanan seleksi (selection pressure) yang sangat berhubungan dengan penggunaan antimikroba, dan penyebaran mikroba resisten (spread).
Tekanan seleksi resistensi dapat dihambat dengan cara menggunakan secara bijak, sedangkan proses penyegaran dapat dihambat dengan cara mengendalikan infeksi secara optimal.
(Forkodababel.com/ Edw, Foto : IST/ Humas RSUD Depati Bahrin)






