Harga TBS Anjlok, Apkasindo Minta Pemerintah Tetap Jaga Harga CPO Dalam Negeri Tidak Jatuh
FORKODABABEL.COM, BANGKA —
Rencana kebijakan Presiden RI Prabowo yang membuat BUMN untuk mengurus ekspor satu pintu sumber daya alam, seperti CPO, Batubara dan lainnya telah menyebabkan anjloknya harga TBS kelapa sawit petani mandiri atau swadaya yang menjual ke pabrik kelapa sawit (PKS).
Seperti halnya yang terjadi di Kabupaten Bangka, sehari setelah pidato Presiden RI Prabowo, yaitu pada Kamis (21/05/2026) dari 9 PKS, ada 7 PKS menurunkan harga beli TBS kelapa sawit antara Rp50 hingga Rp250 per kg, dimana harga terendah Rp2.620 dan tertinggi Rp3.180 per kg.
Satu PKS libur dan hanya satu PKS yang tidak menurunkan harga atau tetap membeli di harga tertinggi Rp3.180 per kg yakni PT THEP Puding Besar.
Namun hari kedua, atau Jumat (22/05/2026) harga TBS kelapa sawit petani mandiri kembali anjlok terjadi penurunan terendah Rp80 dan tertinggi Rp600 per kg, sehingga harga TBS terendah Rp2.040 dan tertinggi Rp3.100 di PT THEP Puding Besar,
padahal harga lelang CPO masih cukup tinggi sekitar Rp15.000 an per kg.
Anjloknya harga TBS kelapa sawit petani mandiri hampir dialami di seluruh provinsi prnghasil kelapa sawit di Indonesia.

Menanggapi fenomena ini, Sekretaris Umum (Sekum) DPP Apkasindo, Dr Rino Afrino menilai pasti ada hal yang mendasari sehingga Presiden RI mengambil kebijakan tersebut.
“Tidak mungkin merubah suatu pola yang sudah berlangsung lama tanpa ada penyebabnya, dan kita juga sudah mendengar alasannya,” kata Rino.
Namun rencana kebijakan pak Presiden RI itu ternyata direspon langsung dengan dampak ikutannya yakni anjloknya harga TBS kelapa sawit petani mandiri di seluruh Indonesia.

“Padahal harga rujukan CPO dalam negeri ikutan jatuh sehingga harga TBS petani jatuh, kita harapkan pemerintah bisa memastikan harga CPO dalam negeri ini tidak ikutan jatuh, karena saat ini rencana kebijakan itu belum diapa-apain, infonya itu bulan Juni itu masa transisi. Padahal harga CPO di luar negeri masih tinggi dan menguat, jadi sangat tidak elok kalau harga dalam negeri jatuh,” imbuhnya.
Diharapkannya, pemerintah memperhatikan kebijakan ini karena siapa yang membuat harga CPO dalam negeri ini jatuh, jadi jangan hanya menberesi para pelaku eksportir nakal saja, tapi juga perhatikan dampaknya ke harga TBS kelapa sawit petani yang dibawah ini.
“Mohon pemerintah jangan biarkan para petani kelapa sawit kehilangan pendapatannya yang telah memberikan kontribusi terhadap ekonomi nasional,” imbuhnya.
Upaya yang akan diambil Apkasindo dengan melakukan komunikasi dengan pemerintah, dimana letak kesalahannya sehingga berdampak pada anjloknya harga TBS.
“Kita minta para petani tetap tenang, akan kita suarakan dengan fasilitas yang ada, termasuk para petani di Bangka Belitung. Kita harapkan dalam waktu tidak lama anjloknya harga ini bisa diatasi pemerintah kembali,” harapnya.
Memang mekanisme penetapan harga TBS itu juga memperhatikan harga CPO internasional, kalau harga CPO internasional turun maka harga CPO dalam negeri juga turun dan harga TBS juga turun.
“Tetapi saat ini harga CPO internasional stabil dan tinggi, kita juga heran kenapa terjadi anomali harga TBS kelapa sawit ini,” imbuhnya.
(edw)
(Foto: Sekretaris Umum DPP Apkasindo Dr Rino Afrino. edw)






